Awwal / Format Kajian / Audio / Rekaman Kajian Riyadhus Sholihin Bab Ghibah yang Diperbolehkan #3

Rekaman Kajian Riyadhus Sholihin Bab Ghibah yang Diperbolehkan #3

Pada pertemuan sebelumnya sudah dijelaskan kondisi apa saja yang diperbolehkan melakukan ghibah. Sedikit kita muraja’ah kembali bahwa Ghibah dan menfitnah (menuduh tanpa bukti) sama-sama keharaman. Namun untuk ghibah dibolehkan jika ada tujuan yang syar’i yaitu dibolehkan dalam enam keadaan sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan ‘aib orang lain adalah sebagai berikut:

  1. Mengadu tindak kezaliman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Semisal mengatakan, “Si Ahmad telah menzalimiku.”
  2. Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat kemungkaran tersebut kembali pada jalan yang benar. Semisal meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, “Si Rahmat telah melakukan tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya.”
  3. Meminta fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti, “Saudara kandungku telah menzalimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezaliman yang ia lakukan.”
  4. Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits.
  5. Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah terhadap maksiat atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya.
  6. Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf dengannya seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, itu lebih baik. (Syarh Shahih Muslim, 16: 124-125)

Dalam pertemuan kali ini tanggal 13 Februari 2017 dijelaskan dalil-dalil dari Assunnah (Hadist) yang menegaskan dibolehkannya ghibah dalam kondisi tertentu dan batasan-batasannya. Simak selengkapnya penjelasan Ustadz Ma’ruf Nur Salam, Lc ketika kajian rutin setiap hari senin di Masjid Al Amin.

 

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Menyampaikan/menyebarkan sunnah (petunjuk) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia lebih utama daripada menyampaikan (melemparkan) panah ke leher musuh (berperang melawan orang kafir di medan jihad), karena menyampaikan panah ke leher musuh banyak orang yang (mampu) melakukannya, sedangkan menyampaikan sunnah (petunjuk) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia hanya (mampu) dilakukan oleh (para ulama) pewaris para Nabi ‘alaihis salam dan pengemban tugas mereka di umat mereka, semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk golongan mereka dengan karunia dan kemurahan-Nya. Kitab “Jala-ul afhaam” (hal. 415).

Tentang Abu Musa

Lihat juga

Ustadz Fadlan Fahamsyah, Inilah Faktanya, Sejarah Islam, Sirah Sahabat Nabi, Masjid al-Amin Merr, Kajian Islam, Kajian Sunnah, Kajian Rutin, Kajian Kitab

Rekaman Kajian Kitab Hiqbah min at-Taariikh [026] – Ustadz Fadlan Fahamsyah

Kajian rutin di Masjid Al-Amin Jl. Semampir Tengah 3A no 25 Surabaya yang membahas kitab …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Protected by WP Anti Spam