Awwal / Tema / Akidah / Rekaman Kajian Kiat-Kiat Meraih Hidayah – Ustadz Muhammad Nur Ihsan

Rekaman Kajian Kiat-Kiat Meraih Hidayah – Ustadz Muhammad Nur Ihsan

بسم الله الرحمن الرحيم

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهد الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه أجمعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:

Setiap muslim yang mendirikan sholat, tidak kurang tujuhbelas kali dalam sehari semalam memohon hidayah kepada Allah untuk mengikuti jalan yang lurus (اهدنا الصراط المستقيم)  “Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus”. Do’a ini merupakan bagian dari ayat surat Al-Fatihah yang merupakan rukun sholat yang wajib dibaca, jika tidak dibaca tentu sholat tidak sah. Hal ini menjelaskan keutamaan surat al-fatihah dan keutamaan do’a tersebut dan kedudukannya dalam kehidupan seorang muslim serta menunjukkan betapa besarnya kebutuhan seorang hamba terhadap hidayah.

Akan tetapi ironinya mayoritas kaum muslimin yang membaca do’a tersebut tidak memahami makna dan hakikat kandungannya serta besarnya kebutuhan mereka terhadap hidayah dan bagaimana kiat kiat dan jalan untuk meraih hidayah tersebut.

Dalam tulisan yang sederhana ini, penulis mengajak kita semua untuk kembali mentadabbur dan menghayati firman Allah : (اهدنا الصراط المستقيم), mengupas beberapa permasalahan yang berkaitan dengan hidayah: hakikatnya dan sebab sebab untuk meraihnya. Hanya Allah-lah tempat kita memohon taufiq, hidayah dan pertolongan.

 

HAKIKAT HIDAYAH

Hidayah adalah kosakata yang sangat populer dikalangan kaum muslimin dan sering didengar dalam untaian do’a-do’a yang mereka panjatkan, akan tetapi mayoritas mereka tidak memahami makna dan hakikat hidayah yang sesungguhnya.

Hidayah adalah: “Mengenal kebenaran dan mengamalkannya serta mengutamakannya dari yang lain”.

Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah menjelaskan makna hidayah dan hakikatnya:

“الْهِدَايَة هِيَ الْعلم بِالْحَقِّ مَعَ قَصده وإيثاره على غَيره فالمهتدي هُوَ الْعَامِل بِالْحَقِّ المريد لَهُ”

“Hidayah adalah mengenal kebenaran dan menginginkannya serta mengutamakannya atas yang lain, maka orang yang mendapat hidayah adalah orang yang mengamalkan kebenaran dan menginginkannya”[1].

Makna yang senada dituturkan oleh Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam perkataan beliau:

“الهدى: هو العلم بالحق، والعمل به، وضده الضلال عن العلم والضلال عن العمل بعد العلم”.

“Al-Huda (Hidayah) adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, lawannya adalah sesat dari ilmu dan sesat dari mengamalkan setelah berilmu“[2].

Mengenal kebenaran dan mengamalkannya merupakan hakikat ilmu yang bermanfaat dan tidak mengetahui kebenaran atau meninggalkannya merupakan hakikat kebodohan yang sesungguhnya.

Makna dan hakikat hidayah diatas selaras dengan perkataan ulama ahli tafsir dalam menafsirkan (Al-Hudaa) dan (Dinulhaq) yang tercantum dalam firman Allah:

(هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق) [سورة التوبة 33، والصف 9، والفتح 28]

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa Al-Hudaa (petunjuk) dan agama yang benar”.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya: “Al-Hudaa adalah : ilmu yang bermanfaat dan Dinulhaq adalah: amal sholeh”[3].

Dari apa yang diutarakan bisa disimpulkan bahwa permohonan seorang muslim untuk mendapatkan hidayah sejatinya adalah permohonan untuk mengenal kebenaran dan pertolongan untuk mengamalkannya, itulah jalan orang orang yang mendapatkan nikmat yang selamat dari kemurkan Allah, karena telah mengamalkan ilmu yang diketahui dan selamat dari kesesatan, yaitu jalan orang-orang yang beramal tanpa ilmu, sebagaimana kelanjutan dari permohonan diatas :

(اهدنا الصراط المستقيم * صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين)

Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus, jalan orang orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan orang orang yang dimurkai dan bukan jalan orang orang yang sesat”.

Jalan orang orang yang diberi nikmat adalah jalan dan panduan hidup orang orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya dari kalangan para Nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada’ dan orang-orang yang sholeh.

Jalan orang orang yang dimurkai adalah: jalan kamu Yahudi yang mengetahui kebenaran tetepi tidak mengamalkan/mengikutinya, termasuk kedalam golongan ini setiap orang yang mengetahui kebenarn tetapi tidak mengamalkannya dari kalangan umat ini.

Adapun jalan orang orang yang sesat: adalah jalan kaum Nasrani, yang beramal tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dari jalan yang lurus, termasuk kedalam golongan ini  setiap orang yang memiliki semangat beramal tetapi tidak didasari ilmu yang benar, maka mereka sesat.

Disisi lain, makna dan hakikat hidayah diatas menunjukan kepada kita kewajiban untuk belajar dan menuntut ilmu yang bermanfaat dalam seluruh aspek agama: akidah, ibadah, akhlak, muamalah dan yang lain serta menjelaskan betapa besarnya kebutuhan kita kepada pertolongan Allah untuk mengamalkan kebenaran dan ilmu yang telah diketahui. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Sungguh sangat benar apa yang disabdakan oleh Rasul shalallahu’alaihi wasallam dalam haditsnya:

(من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين)

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya maka Dia menjadikannya orang yang paham (berilmu) tentang agama”[4].

Maka penomena yang sangat menyedihkan dan sikap kontradiksi yang memilukan dikalangan kaum muslimin yang selalu memanjatkan do’a yang mulia ini untuk mendapat hidayah kepada jalan yang lurus, akan tetapi tidak ada kesungguhan untuk menuntut ilmu agama yang bermanfaat yang bersumberkan al qur’an dan sunnah serta kesungguhan untuk mengamalkannya, sedang diwaktu yang sama kita melihat kesungguhan yang berlebihan dari  mayoritas mereka untuk mempertahankan tradisi dan mengamalkannya, melestarikan warisan para leluhur dan budaya nenek moyang, perhatian yang minim untuk mempelajari sunnah dan mengamalkannya, sungguh sangat ironi sekali, bagaimana mungkin hidayah akan diraih dan kebenaran bisa digapai, kalau sumber utama hidayah (al-qur’an dan sunnah) tidak digali dan dikaji serta sebab utama (ilmu) tidak dipelajari.

 

SEBAB-SEBAB MERAIH HIDAYAH

Sudah merupakan taqdir Allah, bahwa segala sesuatu didapatkan dengan usaha, karena hubungan sebab akibat adalah sesuatu yang sangat nyata yang telah ditakdirkan oleh Allah, rasa lapar dan dahaga dihilangkan dengan makan dan minum, untuk mendapatkan keturunan dengan menikah, bumi yang gersang menjadi hidup dan subur disebabkan turun hujan serta ilmu didapatkan dengan belajar, begitu seterusnya.

Demikian pula halnya dengan hidayah, kendati ia semata-mata hak prerogatif Allah akan tetapi agama telah menjelaskan sebab-sebab untuk meraihnya, tidak didapatkan dengan berpangku tangan dan sekedar berdo’a, akan tetapi dengan do’a dan usaha keras untuk mendapatkanya, sebagaimana sabda Nabi shalallahu’alaihi wasallam :

(احرص على  ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجزن).

“Bersungguh sungguhlah mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah…”.

Simak penjelasan lengkapnya pada rekaman berikut

Unduh rekaman dalam format mp3 disini
[1] “Miftah daaris sa’aadah” 1/83.

[2] “Taisiir Karimir Rahman fii Tafsiir Kalamil Mannan” hal: 50, cet. Muassasah Ar-Risalah, tahun: pertama. lihat juga hal: 323

[3] ”Tafsir Ibnu Katsir” 7/303 dan lihat juga: 3/136 dan 7/360 dan “Taisiir Karimir Rahman fii Tafsiir Kalamil Mannan”hal: 739 dan 797.

[4] H.R Imam Muslim dalam : “shohih”nya (no. 1037).

Tentang Abu Musa

Lihat juga

Ustadz Fadlan Fahamsyah, Inilah Faktanya, Sejarah Islam, Sirah Sahabat Nabi, Masjid al-Amin Merr, Kajian Islam, Kajian Sunnah, Kajian Rutin, Kajian Kitab

Rekaman Kajian Kitab Hiqbah min at-Taariikh [026] – Ustadz Fadlan Fahamsyah

Kajian rutin di Masjid Al-Amin Jl. Semampir Tengah 3A no 25 Surabaya yang membahas kitab …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Protected by WP Anti Spam