Awwal / Format Kajian / Artikel / Pemutus Hubungan Tali Penikahan – Ustadz Muhammad Yassir, Lc

Pemutus Hubungan Tali Penikahan – Ustadz Muhammad Yassir, Lc

Makalah Ringkasan Kajian
Pemutus Tali Hubungan Perkawinan
Oleh: Muhammad Yassir, Lc

1. Kematian

Kematian Istri

Suami yang ditinggal mati oleh istrinya, terputuslah hubungan suami istri seketika sejak kematian istrinya itu. Dalam artian, boleh bagi suami melakukan hal yang sebelumnya dilarang ketika masih berstatus terikat tali perkawinan. Seperti: menikahi saudari mendiang istrinya; menikah lagi dengan untuk menggenapkan empat istri.
Tapi, ada hal yang masih boleh dilakukan suami terhadap mendiang istrinya, yaitu memandikan jenazahnya.

Kematian Suami
Istri yang ditinggal mati oleh suaminya, belum terputus total hubungan pernikahan mereka. Karena, masih ada masa iddah baginya yang wajib dijalani.
Iddah wanita yang ditinggal mati suaminya adalah 4 bulan 10 hari atau sampai melahirkan.
Begitu juga wajib bagi wanita ini untuk ihdad (berkabung) selama masa iddah.
Yang dilakukan wanita dalam masa ihdadnya:

  • Tidak Menerima lamaran/ pinangan,
  • Tidak keluar rumah/ pindah ke rumah lain,
  • Tidak memakai wangi wangian,
  • Tidak memakai celak (Berhias pada tubuh),
  • Tidak memakai pakaian berhias/ menarik dipandang,
  • Tidak memakai perhiasan di tubuh, gelang kalung cincin dll.

2. Talak
Talak adalah pemutus perkawinan karena ucapan talak dari suami.
Hukum Talak terbagi menjadi empat tergantung kondisi:

  • Hukumnya wajib: Talak karena adanya perpecahan antara suami istri yang sudah diputuskan oleh utusan kedua belah pihak bahwa mereka harus bercerai; Talaknya seseorang yang melakukan ila’ (sumpah tidak akan menggauli istrinya) yang sudah lebih empat bulan, dan tidak mau bayar kaffarat sumpahnya,
  • Hukumnya haram yaitu talak bid’i (bid’ah); Talak dalam keadaan haid; atau ketika istrinya suci dari haid tapi sudah pernah digauli,
  • Hukumnya makruh yaitu talak yang tanpa sebab apa-apa, kedua suami istri dalam keadaan akur,
  • Hukumnya sunah, bila si istri tidak memiliki sifat ‘iffah (menjaga kehormatan diri); atau dikhawatirkan kebersamaan mereka berdua tidak bisa melaksanakan kewajiban syariat; atau kebersamaan mereka berdua memberi dharar kepada si istri.
    Bila suami hendak mentalak istrinya, hendaklah dilakukan di waktu yang diizinkan oleh syariat (dinamakan talak sunni), yaitu ketika istrinya sudah suci dari haid dan belum digaulinya.

Talak Raj’i dan Bain
Talak Raj’i adalah talak yang masih berkesempatan si suami untuk ruju’ ke istrinya selama masih dalam iddah walaupun tanpa melalui izin si istri.
Talak raj’i berlaku pada talak satu dan dua saja.
Talak Bain, suami tidak boleh ruju’ kepada mantan istrinya. Dan ini terbagi menjadi dua: Bain Shugra dan bain kubra
Perbedaan keduanya: Thalak Bain shugra, si suami tidak bisa ruju’ lagi ke mantan istriya kecuali dengan akad nikah baru. Sedangkan Bain Kubra, si suami juga tidak bisa ruju’ lagi ke mantan istrinya, kalau masih ingin melangsungkan akad nikah baru harus melewati beberapa proses, yaitu mantan istrinya sudah selesai iddah, kemudian menikah dengan laki-laki lain, kemudian ditalak oleh suami barunya itu, kemudian selesai iddah dari talak tersebut, barulah si wanita ini boleh nikah kembali dengan mantan suami pertamanya.
Talak bain shughra terjadi pada; talak satu dan dua bila si istri sudah selesai dari iddah; talak istri yang belum pernah digauli sama sekali.
Talak bain kubra terjadi pada talak ketiga.

Lafal talak terbagi menjadi dua:
Shorih yaitu lafal yang tidak bermakna ganda, maka dengan lafal ini talak jatuh walaupun tidak ada niat dari suami. Seperti ucapan: “Thalak”, “cerai”
Lafal Kinayah yaitu lafal yang bermakna ganda (bisa berarti cerai bisa berarti bukan), maka dengan lafal ini baru talak jatuh bila ada niat cerai dari suami. Seperti: Pulang ke rumah orang tuamu; kamu bebas dll.
Thalak bisa jatuh walaupun tanpa sepengetahuan istri, walaupun bukan di pengadilan
Iddah Istri yang ditalak

  • Bila si Istri belum pernah digauli, maka tidak ada iddahnya,
  • Bila si Istri adalah wanita yang memiliki siklus haid secara rutin, maka iddahnya adalah selesai dari tiga kali haid dihitung dari saat ditalak,
  • Bila si Istri adalah wanita yang tidak memiliki siklus haid, baik karena tidak bisa haid sama sekali ataupun karena sudah menopause. Maka, masa iddahnya adalah selama tiga bulan,
  • Bila si istri yang ditalak sedang dalam keadaan hamil, maka masa iddahnya sampai melahirkan.

3. Khulu’
Khulu’ yang biasa disebut dengan gugat cerai adalah perpisahan antara suami-isteri dengan pembayaran diserahkan isteri kepada suaminya. Hukumnya, juga dilihat dari beberapa sisi tergantung keadaan:

  • Diharamkan Khulu’ dan keharaman ini dari sisi suami, yaitu apabila suami sengaja menyusahkan isteri tanpa ada kesalahan dari si istri, dengan cara memutus hubungan komunikasi dengannya, atau tidak memberikan hak-haknya dengan tujuan agar sang isteri menggugat cerai dan membayar tebusan.
  • Dimakruhkan , jika isteri menggugat cerai padahal hubungan rumah tangga mereka dalam keadaan tenteram tanpa pertengkaran di antara pasangan suami isteri tersebut. Serta tidak ada alasan syar’i yang membenarkan adanya khulu’. Bahkan ada yang berpendapat, dalam keadaan ini haram minta khulu’.
  • Dibolehkan (mubah) Khulu’ bila istri sudah benci tinggal bersama suaminya sehingga ia takut berdosa jika tidak dapat menunaikan hak suaminya.
  • Disunnahkan istri Minta Khulu apabila suami melalaikan hak-hak Allah.
  • Diwajibkan minta khulu bila si suami sudah meninggalkan kewajiban Syariat yang bisa menyebabkan kekufuran, misalnya si suami tidak pernah melakukan shalat, padahal telah diingatkan.
    Ucapan perpisahan/ perceraian dalam proses khulu’ dilakukan oleh suami. Hakim atau qadhi dalam hal ini bisa ikut andil untuk menentukan diperintahkannya suami untuk khulu atau tidak.
    Apabila sudah terjadi khulu dan sudah terjadi serah terima bayaran dari pihak istri ke suami, maka terjadilah perpisahan yang tidak boleh lagi bagi si suami untuk ruju’ (seperti talak bain shughra).
    Si istri yang dikhulu’, bila ingin menikah lagi dengan laki-laki lain harus menyelesaikan masa iddahnya.
    Jumlah pemberian dari istri kepada suami boleh sebesar mahar atau kurang atau lebih.

4. Fasakh
Fasakh adalah batalnya atau rusaknya hubungan pernikahan.
Sebab sebab Fasakh:

  • Setelah akad nikah, ternyata diketahui bahwa istrinya atau suaminya adalah mahramnya
  • Bila dari salah satu suami istri murtad atau keluar dari agama islam dan tidak mau kembali sama sekali.
  • Bila suami istri yang tadinya kafir, salah orang masuk islam, tapi pasangannya masih tetap kafir, maka ditunggu sampai selesai iddah, jika tetap tidak mau masuk Islam maka perkawinan mereka batal (fasakh). Lain hal kalau istri orang ahli kitab, maka akadnya akan tetap sah seperti semula. Sebab perkawinannya dengan ahli kitab dari semuanya dipandang sah.
  • Adanya cacat/ penyakit pada suami atau istri yang membuat ketidaknyamanan pasangannya.
  • Suami tidak mampu menafkahi
  • Pelanggaran persyaratan dalam nikah
  • Suami impoten
  • Dll.

Di antara sebab sebab itu ada yang langsung mengakibatkan batal perkawinan ada juga yang perlu keputusan dari hakim. Yang langsung bisa difasahk bila tidak ada perdebatan antara kedua belah pihak. Sedangkan bila ada perbedaan pendapat antara kedua belah pihak, maka fasakh harus dengan izin hakim.

Perbedaan antara fasakh dan thalak
Pertama: talak terjadi dari ucapan suami dengan keridhoannya, sedangkan fasakh bisa terjadi bukan dari lafal suami dan juga tanpa perlu keridhoan suami.
Kedua: dalam fasakh, suami tidak bisa ruju’ ke istrinya, sedangkan dalam talak masih ada kesempatan ruju’ dalam talak satu dan dua.
Ketiga: Fasakh tidak ada hitungannya, berapa kalipun bisa terjadi
Keempat: Talak adalah hak suami, tidak perlu keputusan hakim. Sedangkan fasakh terjadi karena sebab syar’i (adanya keharusan berpisah menurut hukum syariat) ataupun karena keputusan hakim.
Kelima: Talak yang terjadi sebelum digauli, si mantan istri berhak menerima separuh mahar. Sedangkan fasakh yang terjadi sebelum digauli, maka si mantan istri tidak berhak mendapatkan mahar apapun.

5. Li’an

Li’an terjadi karena suami menuduh istri berbuat sedangkan dia tidak memiliki empat orang saksi yang menguatkan tuduhannya itu, sedangkan istri menolak tuduhan dan atau pengingkaran tersebut.
Tata cara Li’an diatur sebagai berikut:

  1. Suami bersumpah empat kali dengan berkata “saya bersaksi dengan nama Allah bahwa istri saya ini berzina”, diikuti sumpah kelima dengan kata-kata: “laknat Allah atas dirinya, apabila tuduhan tersebut dusta.”
  2. Istri menolak tuduhan tersebut dengan sumpah empat kali berkata “saya bersaksi dengan nama Allah bahwa tuduhannya itu tidak benar”, diikuti sumpah kelima dengan kata-kata: “ Murka Allah atas dirinya, bila tuduhan tersebut benar.”
  3. Lian ini dilakukan di depan hakim

Apabila sudah terjadi Li’an ini, maka konsekwensinya adalah:

  1. Perceraian/ terputusnya tali perkawinan mereka
  2. Pengharaman selamanya, keduanya dipisahkan dan keduanya tidak boleh menikah kembali selamanya.
  3. Suami istri tersebut terbebas dari hukuman. Si suami terbebas dari hukuman cambukan 80 kali dan si istri terbebas dari hukuman rajam atau cambukan 100 kali.
  4. Anak yang lahir dari proses li’an ini dinisbatkan kepada ibunya saja

Untuk penjelasan lebih lengkapnya dengarkan pada rekaman audio

Kajian ini diselanggarakan di Masjid al-Amin,
jln. Semampir Tengah IIIA/25 Surabaya

Tentang Abu Musa

Lihat juga

Ustadz Fadlan Fahamsyah, Inilah Faktanya, Sejarah Islam, Sirah Sahabat Nabi, Masjid al-Amin Merr, Kajian Islam, Kajian Sunnah, Kajian Rutin, Kajian Kitab

Rekaman Kajian Kitab Hiqbah min at-Taariikh [026] – Ustadz Fadlan Fahamsyah

Kajian rutin di Masjid Al-Amin Jl. Semampir Tengah 3A no 25 Surabaya yang membahas kitab …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Protected by WP Anti Spam