Awwal / Format Kajian / Artikel / Kiat – Kiat Meraih Hidayah

Kiat – Kiat Meraih Hidayah

KIAT-KIAT MERAIH HIDAYAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Mukaddimah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهد الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه أجمعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:

Setiap muslim yang mendirikan sholat, tidak kurang tujuhbelas kali dalam sehari semalam memohon hidayah kepada Allah untuk mengikuti jalan yang lurus (اهدنا الصراط المستقيم)  “Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus”. Do’a ini merupakan bagian dari ayat surat Al-Fatihah yang merupakan rukun sholat yang wajib dibaca, jika tidak dibaca tentu sholat tidak sah. Hal ini menjelaskan keutamaan surat al-fatihah dan keutamaan do’a tersebut dan kedudukannya dalam kehidupan seorang muslim serta menunjukkan betapa besarnya kebutuhan seorang hamba terhadap hidayah.

Akan tetapi ironinya mayoritas kaum muslimin yang membaca do’a tersebut tidak memahami makna dan hakikat kandungannya serta besarnya kebutuhan mereka terhadap hidayah dan bagaimana kiat kiat dan jalan untuk meraih hidayah tersebut.

Dalam tulisan yang sederhana ini, penulis mengajak kita semua untuk kembali mentadabbur dan menghayati firman Allah : (اهدنا الصراط المستقيم), mengupas beberapa permasalahan yang berkaitan dengan hidayah: hakikatnya dan sebab sebab untuk meraihnya. Hanya Allah-lah tempat kita memohon taufiq, hidayah dan pertolongan.

HAKIKAT HIDAYAH

Hidayah adalah kosakata yang sangat populer dikalangan kaum muslimin dan sering didengar dalam untaian do’a-do’a yang mereka panjatkan, akan tetapi mayoritas mereka tidak memahami makna dan hakikat hidayah yang sesungguhnya.

Hidayah adalah: “Mengenal kebenaran dan mengamalkannya serta mengutamakannya dari yang lain”.

Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah menjelaskan makna hidayah dan hakikatnya:

“الْهِدَايَة هِيَ الْعلم بِالْحَقِّ مَعَ قَصده وإيثاره على غَيره فالمهتدي هُوَ الْعَامِل بِالْحَقِّ المريد لَهُ”

“Hidayah adalah mengenal kebenaran dan menginginkannya serta mengutamakannya atas yang lain, maka orang yang mendapat hidayah adalah orang yang mengamalkan kebenaran dan menginginkannya”[1].

Makna yang senada dituturkan oleh Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam perkataan beliau:

“الهدى: هو العلم بالحق، والعمل به، وضده الضلال عن العلم والضلال عن العمل بعد العلم”.

“Al-Huda (Hidayah) adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, lawannya adalah sesat dari ilmu dan sesat dari mengamalkan setelah berilmu[2].

Mengenal kebenaran dan mengamalkannya merupakan hakikat ilmu yang bermanfaat dan tidak mengetahui kebenaran atau meninggalkannya merupakan hakikat kebodohan yang sesungguhnya.

Makna dan hakikat hidayah diatas selaras dengan perkataan ulama ahli tafsir dalam menafsirkan (Al-Hudaa) dan (Dinulhaq) yang tercantum dalam firman Allah:

(هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق) [سورة التوبة 33، والصف 9، والفتح 28]

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa Al-Hudaa (petunjuk) dan agama yang benar”.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya: “Al-Hudaa adalah : ilmu yang bermanfaat dan Dinulhaq adalah: amal sholeh”[3].

Dari apa yang diutarakan bisa disimpulkan bahwa permohonan seorang muslim untuk mendapatkan hidayah sejatinya adalah permohonan untuk mengenal kebenaran dan pertolongan untuk mengamalkannya, itulah jalan orang orang yang mendapatkan nikmat yang selamat dari kemurkan Allah, karena telah mengamalkan ilmu yang diketahui dan selamat dari kesesatan, yaitu jalan orang-orang yang beramal tanpa ilmu, sebagaimana kelanjutan dari permohonan diatas :

(اهدنا الصراط المستقيم * صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين)

Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus, jalan orang orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan orang orang yang dimurkai dan bukan jalan orang orang yang sesat”.

Jalan orang orang yang diberi nikmat adalah jalan dan panduan hidup orang orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya dari kalangan para Nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada’ dan orang-orang yang sholeh.

Jalan orang orang yang dimurkai adalah: jalan kamu Yahudi yang mengetahui kebenaran tetepi tidak mengamalkan/mengikutinya, termasuk kedalam golongan ini setiap orang yang mengetahui kebenarn tetapi tidak mengamalkannya dari kalangan umat ini.

Adapun jalan orang orang yang sesat: adalah jalan kaum Nasrani, yang beramal tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dari jalan yang lurus, termasuk kedalam golongan ini  setiap orang yang memiliki semangat beramal tetapi tidak didasari ilmu yang benar, maka mereka sesat.

Disisi lain, makna dan hakikat hidayah diatas menunjukan kepada kita kewajiban untuk belajar dan menuntut ilmu yang bermanfaat dalam seluruh aspek agama: akidah, ibadah, akhlak, muamalah dan yang lain serta menjelaskan betapa besarnya kebutuhan kita kepada pertolongan Allah untuk mengamalkan kebenaran dan ilmu yang telah diketahui. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Sungguh sangat benar apa yang disabdakan oleh Rasul shalallahu’alaihi wasallam dalam haditsnya:

(من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين)

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya maka Dia menjadikannya orang yang paham (berilmu) tentang agama”[4].

Maka penomena yang sangat menyedihkan dan sikap kontradiksi yang memilukan dikalangan kaum muslimin yang selalu memanjatkan do’a yang mulia ini untuk mendapat hidayah kepada jalan yang lurus, akan tetapi tidak ada kesungguhan untuk menuntut ilmu agama yang bermanfaat yang bersumberkan al qur’an dan sunnah serta kesungguhan untuk mengamalkannya, sedang diwaktu yang sama kita melihat kesungguhan yang berlebihan dari  mayoritas mereka untuk mempertahankan tradisi dan mengamalkannya, melestarikan warisan para leluhur dan budaya nenek moyang, perhatian yang minim untuk mempelajari sunnah dan mengamalkannya, sungguh sangat ironi sekali, bagaimana mungkin hidayah akan diraih dan kebenaran bisa digapai, kalau sumber utama hidayah (al-qur’an dan sunnah) tidak digali dan dikaji serta sebab utama (ilmu) tidak dipelajari.

SEBAB-SEBAB MERAIH HIDAYAH

Sudah merupakan taqdir Allah, bahwa segala sesuatu didapatkan dengan usaha, karena hubungan sebab akibat adalah sesuatu yang sangat nyata yang telah ditakdirkan oleh Allah, rasa lapar dan dahaga dihilangkan dengan makan dan minum, untuk mendapatkan keturunan dengan menikah, bumi yang gersang menjadi hidup dan subur disebabkan turun hujan serta ilmu didapatkan dengan belajar, begitu seterusnya.

Demikian pula halnya dengan hidayah, kendati ia semata-mata hak prerogatif Allah akan tetapi agama telah menjelaskan sebab-sebab untuk meraihnya, tidak didapatkan dengan berpangku tangan dan sekedar berdo’a, akan tetapi dengan do’a dan usaha keras untuk mendapatkanya, sebagaimana sabda Nabi shalallahu’alaihi wasallam :

(احرص على  ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجزن).

“Bersungguh sungguhlah mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah…”.

Berikut beberapa sebab dan kiat-kiat untuk meraih hidayah:

  1. MENUNTUT ILMU DAN MENGAMALKANNYA.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa hidayah adalah mengenal kebenaran dan mengamalkannya, oleh karena itu sebab pertama dan utama mendapatkan hidayah adalah menuntut ilmu, karena ilmu adalah cahaya dalam kehidupan, ia sumber seluruh kebaikan, sedangkan kebodohan adalah kematian dan kegelapan, ia adalah sumber seluruh kejelekan dan kejahatan.

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ» رواه البخاري ومسلم.

Barangsiapa yang Allah hendaki kebaikan baginya maka Dia menjadikannya orang yang faqih (berilmu) tentang agama”[5].

Hadits ini menunjukan bahwa orang yang tidak dibimbing untuk belajar ilmu agama berarti Allah tidak inginkan kebaikan baginya, sebagaimana orang yang Allah inginkan kebaikan baginya niscaya akan dibimbing untuk tafaqquh dan belajar ilmu yang menuntutnya untuk beramal[6].

Tentunya Ilmu yang bermanfaat dan yang mendatangkan kebaikan adalah ilmu yang diamalkan, bukan sekedar menambah wawasan dan pengetahuan akan tetapi ilmu yang menanamkan sifat takut kepada Allah pada diri penuntutnya, karena itulah hakikat ilmu.

Allah berfirman:

(إنما يخشى الله من عباده العلماء) [فاطر، 28].

“Sejatinya yang hanya takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya adalah para ulama”.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

(كفى بخشية الله علما، وكفي بالاغترار بالله جهلا).

“Cukuplah dengan sifat takut kepada Allah sebagai ilmu dan cukuplah dengan tertipu (durhaka) kepada Allah sebagai kebodohan”[7].

Abu Ad-Dardaa’ radhiyallah’anu berkata:

(لَا يَكُونُ الرَّجُلُ عَالِمًا حَتَّى يَكُونَ بِهِ عَامِلًا).

Tidaklah seseorang dikatakan berilmu sampai ia mengamalkannya”[8].

Sebagian ulama salaf mengatakan: “Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat (pengetahuan) akan tetapi hakikat ilmu yang sesungguhnya adalah sifat takut”[9].

Oleh karena itu Rasululullah shalallahu’alaihi wasallam adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertaqwa kepada-Nya, karena beliaulah yang paling berilmu dan mengenal Allah diantara hamba-hambaNya, sebagaimana sabda beliau:

«أَمَا وَاللهِ، إِنِّي لَأَتْقَاكُمْ لِلَّهِ، وَأَخْشَاكُمْ لَهُ»

“Demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertaqwa kepada Allah diantara kalian dan paling takut kepada-Nya”[10].

Dalam riwayat lain:

«وَاللهِ، إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ، وَأَعْلَمَكُمْ بِمَا أَتَّقِي»

Demi Allah, sesungguhnya aku berharap menjadi orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian dan paling mengetahui apa yang aku kerjakan dan tinggalkan (taqwa)”[11].

Bila dicermati perkataan para ulama dalam menafsiran ayat surat Al-Fatihah yang menjelaskan jalan orang yang diberi nikmat, jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat, niscaya akan dipahami bahwa jalan orang yang dimurkai adalah jalan orang-orang yang berilmu tetapi tidak diamalkan dari kalangan kaum Yahudi dan orang orang yang mengikuti mereka, sedang jalan orang yang sesat adalah jalan orang-orang yang beramal tanpa ilmu dari kalangan kaum Nasrani dan orang-orang yang mengikuti mereka. Adapun jalan orang yang diberi nikmat adalah jalan orang-orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, dengan demikian mereka selamat dari kemurkaan dan kesesatan.

Dari apa yang diutarakan dipahami bahwa untuk mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus diperlukan ilmu yang bermanfaat dan amal sholeh secara bersamaan, Wallahu a’lam.    

  1. IMAN DAN TAUHID.

Keimanan yang sesungguhnya adalah menyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan, amalan dan keta’atan merupakan bagian dari keimanan yang tidak bisa dipisahkan.

Adapun tauhid adalah menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah, mengikhlaskan seluruh ibadah kepada-Nya dan tidak menjadikan sekutu dan perantara dalam beribadah kepada-Nya.

Tidak diragukan bahwa keimanan yang benar dan tauhid yang tulus diantara sebab utama untuk meraih hidayah, karena orang yang beriman dan bertauhid selalu berada diatas kebaikan dan lebih dekat kepada kebaikan serta lebih mudah menerima nasehatnya, Allah Ta’ala berfirman:

قال تعالى: (وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ) [سورة الذرايات: 55].

“Dan berikanlah peringatan (nasehat) karena sesungguhnya peringatan/nasehat itu bermanfaat bagi orang orang yang beriman”.

Setelah Allah menyebutkan azab yang diturunkan kepada umat-umat terdahulu disebabkan oleh kekufuran dan dosa mereka, dalam kejadian tersebut terdapat pelajaran bagi orang orang yang beriman, Allah berfirman:

(إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ) [سورة الحجر: 77] .

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat/pelajaran (nasehat) bagi orang orang yang beriman”.

Yang demikian itu, karena keimanan yang benar mengajak seseorang untuk menerima kebenaran dan mengikutinya dalam ilmu dan amal, begitu juga dia memiliki kesiapan diri untuk menerima nasehat-nasehat yang bermanfaat dan ayat-ayat yang menunjukan kepada kebenaran, tidak ada hambatan untuk menerima kebenaran dan mengamalkannya. Begitu juga iman mempengarui keselamatan fitroh dan ketulusan niat, barangsiapa yang prihalnya demikan maka sungguh dengan mudah ia mendapatkan manfaat/pelajaran dari ayat-ayat yang dibacakan dan nasehat-nasehat yang disampaikan. Sebaliknya seorang yang kondisinya tidak demikian, tidak memiliki iman yang benar, fitroh yang lurus dan niat yang tulus, maka jangan heran kalau ia tidak menerima kebenaran dan tidak mengikutinya, oleh karena itu Allah mengingatkan dalam ayat-ayat yang menjelaskan sebab orang orang kafir tidak beriman kepada Rasul dan tidak menerima kebenaran yang dibawanya, tiada lain sebab utamanya kecuali kekufuran yang ada pada hati mereka, karena kebenaran sangat jelas dan tanda-tanda sangat nyata, sedang kekufuran merupakan hambatan yang paling besar untuk mengikuti kebenaran, maka jangan heran dengan realita ini, karena itulah karakter orang-orang kafir[12].

Allah telah menjanjikan bahwa orang orang yang tulus imannya akan selalu mendapatkan hidayah dan keamanan, sebagaimana firman-Nya:

(الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ) (82) الأنعام.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Makna “kezaliman” dalam ayat ini adalah kesyirikan, karena kesyirikan adalah kezoliman yang besar sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Maksud ayat tersebut bahwa orang orang yang mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, merekalah orang orang yang mendapatkan keamanan pada hari kiamat dan mendapatkan hidayah (petunjuk) didunia dan akhirat, Wallahu a’lam[13].

Firman Allah Ta’ala:

قال تعالى: (وإن الله لهاد الذين آمنوا إلى صراط مستقيم). الحج 54.

“Sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”.

Maksudnya: Allah menunjuki orang orang yang beriman didunia dan akhirat, adapun didunia maka Allah tunjuki mereka untuk mengetahui kebenaran dan mengikutinya, membimbing mereka untuk menyelisihi kebatilan dan meninggalkannya. Adapun diakhirat maka Allah akan tunjuki mereka kepada jalan yang lurus yang membawa kepada derajat yang tinggi dalam syurga serta menyelamatkan mereka dari azab yang pedih dan api neraka[14].

Dan firman Allah:

(إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ) (9) يونس.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan”.

Firman Allah Ta’ala:

 (مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ) التغابن 11 .

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Sebagian ulama salaf menjelaskan maksud ayat diatas: “yaitu seorang yang ditimpa musibah dan ia mengetahui/yakin bahwa itu datang dari Allah lalu ia ridho dan berserah diri[15].

Ayat yang mulia diatas menjelaskan bahwa Allah Ta’ala menunjuki orang orang yang beriman kepada jalan yang lurus, menunjuki mereka untuk mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, menunjuki mereka untuk menerima nikmat dan kebaikan dengan syukur dan menerima kesulitan dan musibah dengan ridho dan sabar, itulah yang terbaik bagi mereka[16].

Berbeda dengan orang-orang yang tidak berimanan dan melakukan kesyirikan, sungguh mereka telah terjerumus kedalam kesesatan yang nyata dan sungguh sangat jauh dari hidayah dan kebaikan, sebagaimana firman Allah Allah:

(ومن يشرك بالله فقد ضل ضلالا بعيدا) النساء: 116

“Dan barangsiapa yang mempersekutukan Allah sungguh ia telah sesat dengan sejauh jauhnya”.

Firman Allah Ta’ala:

(ألا لله الدين الخالص والذين اتخذوا من دونه أولياء ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى إن الله يحكم بينهم في ما هم فيه يختلفون إن الله لا يهدي من هو كاذب كفار) الزمر (3)

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan kafir” (Q.S Az-Zumar, 3).

Ayat yang mulia ini menjelaskan kewajiban mengikhlaskan seluruh ibadah kepada Allah dan larangan dari berbuat kesyirikan dan mengambil perantara selain Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya dalam beribadah, karena hal itu merupakan perbuatan orang orang musyrikin dan Allah tidak akan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus, karena yang demikian itu adalah perbuatan syirik, bahkan Allah vonis mereka sebagai pendusta dan kafir. Datang kepada mereka nasehat dan ayat-ayat Allah tetapi didustai dan diingkari, lalu bagaimana hidayah akan sampai kepada mereka, karena mereka telah menutup pintu petunjuk bagi diri mereka sendiri sehingga Allah kunci pintu hatinya dan mereka tidak akan beriman.

Dalam ayat lain Allah menjelaskan:

)كَيفَ يهدي الله قوما كفرُوا بعد إِيمَانهم وشهدوا أَن الرَّسُول حق وجاءهم الْبَينَات وَالله لَا يهدي الْقَوْم الظَّالِمين( [آل عمران، 86].

“Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim”.

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang kafir setelah datang kebenaran dengan nyata dan mereka telah mengenal dan menyakininya, akan tetapi mereka kufur dengan sengaja, maka darimana akan datang hidayah/petunjuk kepada mereka, karena orang yang diharapkan mendapat hidayah adalah orang yang tersesat akan tetapi tidak tahu ia berada diatas kesesatan, bahkan mengira bahwa ia berada diatas petunjuk, maka apabila dia mengenal kebenaran maka dengan mudah menerima hidayah tersebut, adapun orang yang telah mengenal kebenarn dan telah bersaksi dan menyakininya kemudian dia memilih kekufuran dan kesesatan, lalu bagaimana Allah akan menunjuki orang yang seperti ini?[17].

  1. TAQWA.

Taqwa adalah :Melaksanakan perintah Allah berdasarkan ilmu karena mengharapkan pahala-Nya dan meninggalkan maksiat/larangan berdasarkan ilmu karena takut kepada azab Allah[18].

Ketaqwaan merupakan sebab utama untuk meraih hidayah, karena orang yang bertaqwalah yang bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari ayat ayat al qur’an, makanya Allah ta’ala mengatakan bahwa al qur’an adalah penujuk bagi orang orang yang bertaqwa, sebagaiman dalam firman-Nya:

(ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين) [البقرة: 2].

Itulah kitab (al qur’an) tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi orang orang yang bertqwa”.

Tidak diragukan bahwa al qur’an petunjuk bagai seluruh manusia, menunjuki mereka kepada seluruh jalan kebaikan, dan secara khusus petunjuk bagi orang orang yang bertaqwa, karena merekalah yang menerima petunjuk al qur’an, adapun orang-orang yang celaka dan sengsara mereka tidak memperhatikan al qur’an dan tidak menerima petunjuk Allah, telah jelas bagi mereka hujjah akan tetapi mereke tidak mengambil manfaat darinya disebabkan kesengsaraan mereka. Adapun orang-orang yang bertaqwa mereka sungguh telah memiliki/melakukan sebab yang terbesar untuk mendapatkan hidayah, yaitu taqwa yang pada hakikatnya adalah membentengi diri dari kemurkaan dan azab Allah dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan, sehingga mereka mendapat hidayah dan mendapatkan manfaat yang begitu besar. Hidayah dalam ayat diatas mencakup dua: Hidayah Al-Bayan (penjelasan/nasehat) dan hidayah At-Taufifq, orang-orang yang bertqwa mendapatkan kedua hidayah tersebut, adapun selain mereka tidak mendapatkan hidayah taufiq. Hidayah al bayan tanpa hidayah at-taufiq pada hakikatnya bukan hidayah yang sempurna[19].

Orang-orang yang bertaqwa sungguh mendapatkan kebaikan yang sangat banyak dan yang paling utama adalah kenikmatan hidayah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

(وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا (66) وَإِذًا لَآَتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا (67) وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (68) النساء.

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran/nasehat yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus”.

Ayat diatas menjelaskan keutamaan orang orang yang mendengarkan nasehat dan melaksanakannya, mereka akan mendapatkan empat keuntungan didunia dan akhirat:

Pertama: Kebaikan (لكان خيرا لهم).

Maksudnya: mereka menjadi orang orang yang baik yang memiliki sifat sifat kebaikan dan selamat dari sifat sifat kejelekan.

Kedua: Mendapatkan keteguhan (وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا).

Maksudnya: Allah meneguhkan orang orang yang beriman disebabkan oleh iman mereka, yaitu melaksanakan apa yang disampaikan kepada mereka, Allah meneguhkan mereka didunia dalam menghadapi fitnah, baik dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan serta menghadapi musibah, mereka diberikan keteguhan dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan yang diinginkan oleh jiwa. Tatkala ditimpa musibah yang tidak disenangai oleh hamba, maka Allah membimbingnya untuk sabar atau ridho atau bersyukur, maka Allah berikan kepadanya pertolongan untuk melakukan hal tersebut, Allah teguhkan dia diatas agama tatkala sakaratulmaut dan dialam kubur.

Begitu juga seorang hamba yang selalu melaksanakan perintah, melatih dirinya untuk melakukan perintah perintah agama sehingga ia merasa senang dan rindu untuk melakukannya, nah yang demikian itu menjadi penolong baginya untuk selalu teguh dan istiqomah diatas keta’atan.

Ketiga: Mendapat pahala yang banyak (وإذا لآتيناهم من لدنا أجرا عظيما).

Maksudnya: mendapatkan pahala didunia dan diakhirat, mendapatkan kenikmatan yang abadi yang tidak perna dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan tidak terbesit dalam hati manusia.

Keempat: Mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus (وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا).

Ini adalah kenikmatan yang umum, disebutkan setelah kenikmatan-kenikmatan yang khusus diatas, menunjukan kepada kemulia hidayah kepada jalan yang lurus, karena ia mencakup mengenal kebenaran dan mencintainya, mengutamakan dan mengamalkannya serta karena kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba tergantung kepadanya. Barangsiapa yang dijunjuki kepada jalan yang lurus sungguh telah diberi taufiq untuk seluruh kebaikan dan terhindar dari seluruh kejelekan dan kejahatan[20].

Taqwa adalah sebab utama mendapatkan ilmu dan kemudahan dari Allah, sebagaimana firman Allah:

(وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (282) [البقرة].

“Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarkanmu ilmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (29) [الأنفال].

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan maatkan kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”.

Berbagai penafsiran ulama salaf dalam menjelaskan makna (Furqaan) dalam ayat diatas, diantara: jalan keluar (solusi) didunia dan akhirat, kesalamatan, kemenangan (pertolongan), dan ada yang menafsirkan dengan makna: pemisah antara hak dan batil.

Pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara tafsiran diatas, bahkan makna terakhir yaitu (pemisah antara hak dan batil) lebih umum, mencakup seluruh makna diatas, karena seorang yang bertaqwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, akan diberi taufiq/hidayah untuk mengenal kebenaran dari kebatilan, maka itulah yang menjadi sebab kemenangan dan keselamatanya serta mendapatkan jalan keluar/solusi dalam urusan dunianya dan sebab kebahagiannya pada hari kiamat, diampuni doso-dosanya dan ditutupi kesalahan-kesalahanya dari manusia serta sebab mendapatkan pahala yang banyak disisi Allah[21], sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lain:

{يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وآمنوا برسوله يؤتكم كفلين من رحمته ويجعل لكم نورا تمشون به وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ } [الحديد: 28].

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Maksudnya Allah akan memberikan kepada mereka rahmat dan pahala yang berlipat ganda dan memberikan cahaya ilmu dan petunjuk yang dengannya mereka melihat kebenaran dan mengenal kesesatan serta kebatilan sehingga selamat dari hal itu dan mengampuni doso-dosa mereka.

Dan firman Allah Ta’ala:

(وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ). [الطلاق: 2-3].

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”.

(وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا (4) [الطلاق].

“Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”.

Dan tidak diragukan bahkan kemudahan dan jalan keluar atau solusi dari seluruh problematika hidup adalah rahmat, karunia dan hidayah dari Allah Ta’ala. 

Dari apa yang diutarakan jelaslah bahwa seluruh keta’atan dan amal sholeh adalah wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan sebab utama untuk mendapatkan hidayah. Dan korelasi atau hubungan antara taqwa dan hidayah sangat erat sekali, “semakin bertambah ketaqwaan seorang hamba kepada Allah semakin tinggi tingkatannya dalam meraih hidayah, ia selalu mendapatkan tambahan hidayah selama bertambah ketaqwaannya, dan apabila ia meninggalkan salah satu dari nilai-nilai ketaqwaan maka ia akan kehilangan bagian dari nilai-nilai hidayah, semakin bertaqwa semakin bertambah hidayahnya dan semakin bertambah hidayahnya semakin bertambah ketaqwaannya”[22].

Allah berfirman:

 (ويزيد الله الذين اهتدوا هدى) [مريم: 76].

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk”.

Maksudnnya: Disebabkan mereka mendapat petunjuk kepada keimanan maka Allah tambahkan hidayah bagi mereka, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal sholeh.

Dan firman Allah:

 (وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ) [محمد، 17].

“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya”.

Maksudnya: orang-orang yang telah mendapat hidayah kepada keimanan dan ketundukan serta melakukan apa yang diridhoi Allah, maka Allah akan menambah petunjuk bagi mereka sebagai balasan terhadap perbuatan mereka dan akan membimbing mereka kepada kebaikan serta menyelamatkan/menjaga mereka dari kejahatan, dalam ayat diatas disebutkan dua balasan bagi orang orang yang telah mendapatkan hidayah, yaitu: ilmu yang bermanfaat dan amal sholeh[23], Wallahu a’lam.

 

  1. Inabah kepada Allah.

Inabah secara bahasa bermakna: kembali, yang dimaksud disiini adalah kembalinya para wali Allah, hamba-hambaNya yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya dalam berubudiyah dan melakukan keta’atan  dengan penuh keikhlasan dan kecintaan.

Karena inabah terbagi dua: Pertama: Inabah kepada Rububiyyah Allah, yaitu inabah seluruh makhluk kepada Allah dalam berdo’a apabila ditimpa musibah, hal ini mencakup orang beriman dan kafir atau orang yang baik dan fasik, maksudnya bahwa Inabah ini tidak lazim menunjukan keislaman seseorang, bahkan terkadang mengandung kesyirikan dan kekufuran, sebagaimana firman Allah:

{وإذا مس الناس ضر دعوا ربهم منيبين إليه ثم إذا أذاقهم منه رحمة إذا فريق منهم بربهم يشركون * ليكفروا بما آتيناهم} [الروم: 33-34]

Apabila manusia mendapatkan kesulitan mereka menyeruh Rabb mereka dengan penuh inabah kepada-Nya * Kemudian apabila mereka mendapatkan rahmat tiba-tiba segolongan dari mereka berbuat syirik kepada Rabb mereka agar mereka kufur kepada apa yang telah Kami berikan kepada mereka”. (Q.S Ar-Ruum, 33-34).

Demikianlah kondisi mereka tatkala telah selamat dan mendapatkan rahmat setelah inabah kepada Allah dalam kesulitan dan kesempitan.

Kedua: Inabah para wali Allah, yaitu inabah ubudiyyah dan kecintaan, hal ini mencakup empat perkara:  1) Kecintaan, 2) Tunduk, 3) Menghadap kepada-Nya dan 4) Berpaling dari selain Allah.

Maka tidaklah berhak mendapatkan sebutan orang yang muniib kecuali orang- orang yang terkumpul pada dirinya empat perkara tersebut. Seluruh penafsiran salaf terhadap lafaz (Inabah) berkisar seputar keempat makna diatas. Dan lafaz tersebut juga mengandung makna: bersegera, kembali dan maju, maka orang yang muniib kepada Allah adalah orang yang bergegas menuju ridho-Nya, kembali kepada-Nya dalam setiap waktu dan selalu maju mencari kecintaan Allah Ta’ala[24].

Nah, orang-orang yang inabah kepada Allah dalam berubudiyah dengan penuh kecintaan dan ketundukan serta bersegera mencari ridho-Nya, akan ditunjuki oleh Allah kepada jalan hidayah.

Allah berfirman:

(قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ) [الرعد: 27].

Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang  inabah (kembali) kepada-Nya”.

Maksudnya: Allah menunjuki orang yang inabah kepada-Nya, kembali kepada-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya dan merendahkan diri kepada-Nya.

Dan firman Allah Ta’ala:

(اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ) [الشورى، 13].

“Allah memilih kepada (agama)Nya orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

Maksudnya: Allah-lah yang mentaqdirkan hidayah bagi orang yang berhak mendapatkannya dan menentukan kesesatan bagi orang yang mengutamakannya daripada petunjuk[25].

Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di menjelaskan makna ::{ويهدي إليه من ينيب}

“Ini adalah sebab dari seorang hamba yang membawanya menuju hidayah Allah, yaitu inabah kepada Rabb-nya, ketertarikan hatinya kepada Allah dan selalu mengharapkan wajah-Nya (ikhlas), karena niat baik seorang hamba disertai dengan kesungguhannya mencari hidayah merupakan diantara sebab kemudahan untuk mendapatkan petunjuk, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

{يهدي به الله من اتبع رضوانه سبل السلام} [المائدة: 16].

“Allah menunjuki dengan kitab-Nya orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan keselamatan” (Q.S Al-Maidah, 16)[26].

Jika kita renungi ayat diatas, yaitu “Allah menunjuki orang yang kembali kepada-Nya” dan kita cermati firman Allah Ta’ala:

{واتبع سبيل من أناب إليَّ} [لقمان، 15]

 “Dan ikutilah jalan orang yang inabah (kembali) kepada-Ku”. (Q.S Luqman, 15).

Kemudian kita perhatikan prihal para shahabat Nabi radhiyallah ‘anhum beserta kesungguhan mereka dalam inabah (kembali) kepada Allah, niscaya hal itu akan memberikan kepada kita suatu kesimpulan yang benar bahwa ini adalah dalil yang menunjukan bahwa perkataan para shahabat adalah hujjah, secara khusus perkataan para Khulafa Rasyidiin radhiyallah ‘anhum[27]. Bahkan ini adalah dalil yang memerintahkan/mewajibkan untuk mengikuti jalan mereka dalam beragama, karena semua para shahabat telah mendapat hidayah karena mereka telah kembali kepada Allah[28].

Ketiga sebab diatas yaitu 🙁Tauhid, Inabah dan Taqwa) telah disebutkan oleh Allah secara kolektif dalam firman-Nya:

(وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ (17) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ) (18) [الزمر].

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah-nya dan inabah (kembali) kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (Q.S Az-Zumar, 17-18).

Maksud firman Allah: “Orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah-nya“, mereka meninggalkan patung berhala dan seluruh sesembahan selain Allah dan hanya tulus beribadah kepada-Nya, inilah hakikat tauhid yang murni.

Adapun firman-Nya: “Dan inabah kepada Allah“, Yaitu hanya kembali kepada Allah dalam berubudiyyah dengan ihklas, berpaling dari kesyirikan dan maksiat, hanya menuju kepada tauhid dan keta’atan, itulah maksud inabah.

Dan firman-Nya: “Mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya“, maksudnya: Mereka mendengarkan perkataan Allah dan Rasul-Nya dan memahaminya kemudian mengamalkan isi kandungannya, ini hakikat taqwa.

Nah, orang orang yang memiliki ketiga sifat diatas, merekalah yang ditunjuki Allah kepada kebaikan didunia dan akhirat, ditunjuki kepada akhlak yang mulia dan amal sholeh, mereka-lah orang-orang Ululalbab yang memiliki akal yang sehat dan fitroh yang selamat, Wallahu a’lam[29].

 

  1. Berpegang teguh dengan Allah dan kitabNya.

قال تعالى: (وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (101) آل عمران.

“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.

قال : (فَأَمَّا الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (175) النساء.

“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya”.

Berpegang teguh kepada Allah mencakup dua pengertian:

Pertama: Berpegang teguh kepada Allah dengan bertawakkal, isti’anah, menyerahkan urusan, berlindung, berserah diri dan pasrah kepadaNya.

Kedua: Berpegang teguh dengan wahyu/kitabNya, yaitu berhukum kepadanya tanpa direkayasa dengan pemikiran, analogi dan akal manusia, perasaan dan mimpi mimpi mereka.

Barangsiapa yang tidak melakukan hal itu sungguh ia telah terlepas dari berpegang teguh kepada Allah, bahkan agama ini secara seluruhan adalah berpegang teguh kepada Allah dan berpegang teguh kepada tali/kitab-Nya dalam seluruh perkara: ilmu, amalan, memohon pertolongan dan mengikuti syari’at serta kontinu dan istiqomah diatasnya sampai hari kiamat[30].

Dari uraian diatas jelaslah urgensi berpegang teguh kepada Allah dan kepada wahyu/kitab-Nya sebagai sebab utama untu meraih hidayah, sampai-sampai Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: “Berpegang teguh kepada Allah dan tawakkal kepadaNya adalah asas utama untuk mendapatkan hidayah dan bekal untuk menjauhi kesesatan, wasilah untuk mendapatkan petunjuk dan menuju jalan kebenaran serta menggapai tujuan”[31].

Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah dan kepada kitab-Nya sunggu ia akan selalu dibimbing kepada jalan kebaikan, karena al qur’an adalah kitab yang menunjuki kepada seluruh kebaikan, sebagaimana firman Allah:

(إن هذا القرآن يهدي للتي هي أقوم) الإسراء 9.

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus”.

Nabi yang mulia shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

 (وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ، كِتَابُ اللهِ) رواه مسلم (1218).

“Dan sungguh aku telah tinggalkan kepada kalian sesuatu -kalian tidak akan tersesat setelahnya- selama kalian berpegang teguh kepadanya, yaitu : kiatabullah (al qur’an)”[32].

Barangsiapa yang berpegang teguh dengan al qur’an pastilah ia berpegang teguh dengan Sunnah Nabi yang mulia, karena keduanya selalu bergandengan tidak bisa dipisahkan. Oleh Karena itu dalam riwayat lain beliau bersabda:

(إني قد خلفت فيكم شيئين، لن تضلوا أبدا ما أخذتم بهما وعملتم فيهما: كتاب الله، وسنتي) رواه مالك والحاكم.

“Sungguh aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara-kalian tidak akan tersesat selama lamanya selagi kalian berpegang teguh kepada keduanya dan mengamalkannya-yaitu: kitabullah dan sunnahku”[33].

Dan barangsiapa yang berpegang teguh dengan Sunnah, pasti ia akan mendapatkan hidayah, sebagaimana yang akan di jelaskan pada poin selanjutnya.

  1. Menta’ati Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Menta’ati Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam adalah konsekuensi syahadat “Muhahammad Rasulullah” yang maksud dan hakikatnya adalah: menta’ati perintah Rasul, meninggalkan larangannya, menerima berita (hadits)nya dan mengibadati Allah sesuai dengan sunnahnya”.

Perintah untuk menta’ati Rasul shalallahu’alaihi wasallam adalah perintah untuk mengikuti Sunnah beliau, sebagaimana perintah menta’ati Allah adalah perintah mengikuti al qur’an.

Barangsiapa yang menta’ai Rasul dan mengikuti sunnahnya, sungguh ia telah mendapat hidayah dan selamat dari kesesatan, sebagaimana firman Allah:

(قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (54)) النور.

“Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”

Dalam ayat diatas Allah mengabarkan bahwa hidayah (petunjuk) hanya ada dalam menta’ai Rasul tidak ada pada selian itu, karena hal  itu dikaitkan dengan syarat, ia akan tiada[i] dengan hilangnya syarat, karena sesuatu yang dikaitkan dengan syarat maka tidak akan ada tatkala tidak terpenuhi syaratnya, jika tidak demikian tentu tidak dinamakan syarat. Jika hal ini telah jelas, maka ayat diatas merupakan dalil yang nyata menunjukan kepada hilangnya hidayah tatkala tidak ada keta’atan kepada Rasul shalallahu’alaihi wasallam[34].

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjeslan makna firman Allah: {وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا}Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk “ seraya berkata: “yaitu kepada jalan yang lurus dalam perkatan dan amalan, maka tidak ada jalan bagi kalian untuk mendapatkan hidayah kecuali dengan menta’atinya, tanpa yang demikian maka tidak akan mungkin, bahkan ini mustahil”[35].

Oleh Karena itu wajib bagi setiap individu muslim untuk menta’ati Allah dan Rasul-Nya dan berserah diri dalam hal tersebut.

Sungguh sangat benar apa yang diungkapkan oleh Imam Az-Suhri rahimahullah:

«مِنَ اللَّهِ الرِّسَالَةُ، وَعَلَى الرَّسُولِ الْبَلَاغُ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ»

“Dari Allah datang risalah, kewajiban Rasul menyampaikan dan kewajiban kita pasrah”[36].

  1. Bersungguh sungguh dalam melakukan keta’atan dan mengikuti jalan kebaikan terlebih lagi dalam menuntut ilmu agama.

Kebaikan dunia dan akhirat tidak bisa diraih dengan berpangku tangan tanpa usaha, karena segala sesuatu dikaitkan dengan sebabnya, sebagaimana yang telah diputuskan oleh Allah dalam taqdirNya.

Maka untuk mendapatkan hidayah harus berusaha dan disertai dengan kesungguhan, sebagaiman wasiat Nabi yang mulia:

(احرص على ينفعك واستعن بالله ولا تعجزن)

“Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan kamu lemah”.

Allah telah menjanjikan bahwa barangsiapa yang bersungguh sungguh menempuh jalan-Nya sungguh akan diberi hidayah, sebagaimana firman Allah:

)وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ( (69). العنكبوت

“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah menjelaskan maksud jihad dalam ayat yang mulia, seraya berkata: Allah mengkaitkan hidayah dengan jihad, maka orang yang paling sempurna hidayahnya adalah orang yang paling besar jihadnya, jihad yang paling utama adalah: jihad (melawan godaan) jiwa, jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan syaithan dan jihad melawan dunia. Barangsiapa yang berjihad melawan keempat perkara ini karena Allah niscaya Allah akan menunjukinya kepada jalan jalan keridhoan-Nya yang membawa kepada syurga. Dan barangsiapa yang meninggalkan jihad tersebut maka dia akan kehilangan hidayah sesuai dengan meninggalkan jihad. Beliau menambahkan: Tidak akan mungkin seseorang berjihad melawan musuh secara dhohir kecuali orang yang berjihad melawan musuh musuh tersebut secara batin, barangsiapa yang menang menghadapinya sungguh akan menang menhadapi musuhnya dan barangsiapa yang dikalahkan oleh musuh musuh tersebut maka dia akan kalah dalam menghadapi musuhnya (yang tanpak)”[37].

Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud “orang orang yang berjihad karena Allah” yaitu: ”Mereka orang orang yang hijrah dijalan Allah dan berjihad memerangi musuh musuh mereka serta mengerahkan usaha dalam mengikuti keridhoan-Nya : “Niscaya kami tunjuki kepada jalan jalan Kami“, yaitu jalan jalan yang membawa kepada (ridho) kami, kerena mereka adalah orang orang yang berbuat kebaikan “Dan sesungguhnya Allah bersama orang orang yang berbuat kebaikan” dengan memberikan pertolongan, kemenangan dan hidayah.

Ini menunjukan bahwa orang yang paling pantas mendapatkan kebenaran adalah orang orang yang berjihad, dan barangsiapa yang melaksankan dengan baik apa yang diperintahkan Allah niscaya Allah akan menolongnya dan memudahkan baginya sebab sebab untuk mendapatkan hidayah, dan barangsiapa yang bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu agama maka dia akan mendapatkan hidayah dan pertolongan untuk mendapatkan keinginannya yang luar dari kemampuan ijtihadnya dan akan dimudahkan baginya perkara ilmu, karena penuntuk ilmu agama berada dalam jihad dijalan Allah, bahkan ia adalah salah satu dari jenis jihad yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh orang orang yang istimewa, yaitu jihad dengan perkataan dan lisan menghadapi orang orang kafir dan munafiqin dan jihad dalam mengajarkan perkara perkara agama, mengembalikan perkara yang diberselisihkan kepada kebenaran jika mereka orang orang yang beragama islam (berserah diri kepada Allah)”[38].

Apa yang disampaikan oleh Syaikh As-Sa’di rahimahullah mempertegas pernyataan sebelumnya bahwa ilmu agama adalah sumber utama untuk mendapat petunjuk dan seluruh kebaikan, maka hendak seorang hamba bersungguh menuntuk ilmu agama yang akan membuka pintu-pintu kebaikan baginya dunia dan akhirat, Wallahul Muwaffiq.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Penulis: Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan, MA

___________________________

[1]Miftah daaris sa’aadah” 1/83.

[2]Taisiir Karimir Rahman fii Tafsiir Kalamil Mannan” hal: 50, cet. Muassasah Ar-Risalah, tahun: pertama. lihat juga hal: 323

[3]Tafsir Ibnu Katsir” 7/303 dan lihat juga: 3/136 dan 7/360 dan “Taisiir Karimir Rahman fii Tafsiir Kalamil Mannan”hal: 739 dan 797.

[4] H.R Imam Muslim dalam : “shohih”nya (no. 1037).

[5] H.R Bukhari (no. 71) dan Muslim (no. 1037).

[6] Lihat : Ibnu Qoyyim, “Miftah daaris sa’adah” (1/60) cet. Dar Al-Kutub Ilmiyah.

[7] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab “Az-Suhd” (hal: 130, no. 864) cet. Dar Al-Kutubil Ilmiyah, Bairut. Lihat : “Fadhl ilmis salaf ‘alal khalaf” hal: 32, cet. Maktabah Dar Al-Bayan, Bairut.

[8] Lihat: “Al-Aadabusy Syar’iyyah wal minanul mar’iyyah“, karya Ibnu Muflih, (2/48) cet. ‘Aalamul Kutub.

[9] Lihat : Ibid.

[10] H.R Muslim (no. 1108).

[11] H.R Muslim (no. 1110).

[12] Lihat: “At-Taudhih wal bayan li syajaratil iman” karya Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, hal: 95, cet. Adhwaus salaf.

[13] Lihat : “Tafsir Ibnu Katsir” (3/294) cet. Dar Thaibah.

[14] Lihat : “Tafsir Ibnu Katsir” (5/446).

[15] Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Alqomah Bin Qais, diriwayatkan oleh Imam Thobari dalam “Tafsir“nya (28/80).

[16] Lihat : “At-Taudhih wal bayan li syajaratil iman” karya Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, hal: 75, cet. Adhwaus salaf.

[17] Lihat : “Miftah Daaris Sa’aadah” (1/90).

[18] Sebagaimana yang dikatakan oleh Thalq Bin Habib rahimahullah, lihat: Jaami’ al-ulum wal hikam, Ibnu Rajab, cet. Muassasah Ar Risalah, hal: 400,

[19] Lihat : “Tafsir As-Sa’di” (hal: 40).

[20] Lihat: “Tafsir As-Sa’di” (hal: 185)

[21] Lihat: “Tafsir Ibnu Katsir” (4/42).

[22]Al-Fawaaid” karya Ibnu Qoyyim (hal: 130) cet. Dar Al-Kutubil ilmiyyah, Bairut.

[23] Lihat: “Tafsir As-Sa’di” (hal: 786)

[24]  Lihat :”Madarijis saalikiin” karya Imam Ibu Qoyyim (1/433).

[25] Lihat: “Tafsir Ibnu Katsir” (7/195).

[26] Tafsir As-Sa’di (hal: 754) cet. Muassasah Ar-Risalah.

[27] Lihat: ibid.

[28] Lihat: “I’lamul muwaqqi’iin” karya Ibnu Qoyyim (4/100) cet. Dar Al-Kutubil ilmiyyah, Bairut.

[29] Lihat: Tafsir Ibu Katsir” (7/90) dan : “Tafsir As-Sa’di” (hal: 721).

[30]  Lihat : “Madaarijus Saalikiin”, Ibnu Qoyyim (3/303).

[31]  Tafsir Ibnu Katsir” (2/86) tahqiq: Saami Salamah.

[32]  H.R Muslim (no. 1218).

[33]  H.R Malik dalam “Al-Muwaththa’” (no. 686) dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” (1/93). Dishohikan oleh Syaikh Al-Bani dalam “Shohih Al-Jami’” (no. 937).

[34] Lihat : “Ar-Risalah At-Tabukiyyah” hl: 41.

[35]  Tafsir As-Sa’di hal : 527

[36]   Dririwayatkan oleh Iman Bukhari dalam : ”Khalqu af’aalil Ibaad” hal: 78 dan dinukil oleh beliau dalam kitab “shohih”nya (9/154).

[37]  “Al-Fawaaid” hal: 59, cet: Daarul kutub ilmiyah.

[38] “Tafsir As-Sa’di” hal: 635

Tentang Abu Musa

Lihat juga

salafi bukan haroki

Rekaman Kajian Ahad Dhuha – Salafi Bukan Haroki – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc

Rekaman kajian ahad dhuha masjid al-Amin tanggal 9 Shafar 1439H / 29 Oktober 2017 bersama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Protected by WP Anti Spam